Pagi yang Gelap, Hari yang Tetap Berjalan

Hari ini dimulai dengan suasana yang tidak biasa. Saat aku terbangun, rumah masih gelap gulita. Ternyata sejak pukul sepuluh malam hingga pagi hari, listrik di rumahku padam. Bukan hanya rumahku, tetapi hampir seluruh area sekitar. Kata ayahku, pemadaman ini disebabkan oleh gardu listrik yang terbakar.

Untungnya, malam tadi cuaca cukup dingin, jadi aku bisa tidur dengan nyaman meskipun tanpa ac atau lampu. Hanya saja, suasana pagi terasa benar-benar gelap. Rumah hanya diterangi oleh cahaya lilin karena lampu darurat pun kehabisan baterai. Kondisi ini cukup membuatku kebingungan saat bersiap-siap untuk berangkat magang.

Karena kerudungku belum disetrika, akhirnya aku meminjam kerudung milik mamah yang sudah rapi. Ponselku pun hanya tersisa 12% baterai saat aku bangun. Dengan sisa daya itu, aku menggunakannya sebagai penerangan seadanya untuk bersiap. Rasanya cukup mengesalkan karena rumah gelap membuat semuanya terasa tidak nyaman. Karena baterai ponsel semakin menipis, aku memutuskan untuk segera berangkat ke kantor.

Seperti biasa, kedua orang tuaku sangat memperhatikan kelengkapanku sebelum berangkat. Bahkan saat aku sudah duduk di motor dan siap jalan, ada rasa aneh seperti ada yang kurang. Benar saja, ketika sampai di depan gerbang, mamah berteriak bahwa aku belum memakai helm. Di momen itu aku berpikir, mungkin di mata kedua orang tuaku aku akan selalu menjadi anak kecil yang ceroboh dan pelupa. Namun justru dari situlah aku merasa sangat disayangi. Aku berharap bisa merasakan perhatian dan kebawelan mereka seumur hidupku.

Setelah semuanya siap dan aku berpamitan, di perjalanan aku menyempatkan diri membeli sarapan. Meski membeli makanan di luar, aku tetap membawa tempat bekal karena tanganku sedang sensitif terhadap sabun cuci piring. Saat ini aku memang belum bisa mencuci peralatan makan menggunakan sabun, jadi membawa tempat sendiri terasa lebih aman.

Sesampainya di kantor, aku langsung sarapan sambil menyiapkan perlengkapan untuk bekerja. Setelah jam kerja dimulai, aku memulai aktivitas dengan melakukan rekonsiliasi bank untuk mengetahui klien yang telah melakukan pembayaran. Data tersebut kemudian aku input ke dalam Zoho untuk mengubah status invoice menjadi paid, serta aku informasikan ke dalam grup divisi.

Selanjutnya, aku mengingatkan (reminder) bill yang sudah mendekati jatuh tempo agar segera ditindaklanjuti. Setelah itu, aku menyiapkan kelengkapan dokumen yang akan dikirimkan ke kementerian sebagai dokumen pendukung pengiriman invoice. Setelah seluruh dokumen ditandatangani, aku melakukan scan seluruh invoice, kemudian melakukan packing untuk proses pengiriman. Tahap terakhir untuk invoice adalah menginput datanya ke dalam Excel sebagai arsip.

Selain itu, aku juga menginput petty cash, mengarsipkan bukti transaksi, serta menyesuaikan pengeluarannya dengan mutasi bank. Di sela-sela pekerjaan, aku menyempatkan diri membaca artikel Catatan Harian Dahlan di web Disway dan menyelesaikan misi di aplikasi Duolingo.

Setelah seluruh pekerjaan selesai dan waktu pulang tiba, aku pun bergegas kembali ke rumah.
Sampai jumpa di cerita berikutnya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *