Pada hari ini, aku datang ke kantor dengan kondisi sangat terlambat akibat hujan deras dan kemacetan yang tidak terhindarkan. Pagi itu sebenarnya aku sudah siap untuk berangkat magang sekitar pukul 06.40. Namun, ketika hendak keluar rumah, hujan turun dengan sangat deras disertai angin kencang.
Di saat yang bersamaan, motor yang biasa aku gunakan untuk pergi magang sedang dipakai oleh ayahku untuk mengantar adikku ke sekolah. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan di rumah kami. Namun, karena cuaca yang sangat tidak mendukung, ayah dan adikku pun ikut terjebak hujan serta kemacetan di perjalanan menuju sekolah.
Sekitar pukul 07.15, aku memutuskan untuk menghubungi Mbak Ami dan meminta izin datang terlambat karena hujan di sekitar rumah sangat deras, jalanan depan rumah terendam air, serta motorku masih digunakan oleh ayah. Jujur saja, menunggu di rumah dalam kondisi seperti itu membuatku cemas karena aku sama sekali tidak suka datang terlambat.
Sekitar pukul 07.40, ayah akhirnya sampai di rumah. Aku langsung mengatakan bahwa aku akan segera menggunakan motor untuk berangkat magang. Namun, ayah menyampaikan bahwa kondisi lalu lintas di arah Teradamai sudah macet parah. Mobil dan motor tidak bergerak karena daerah tersebut merupakan perempatan dan ditambah dengan kondisi jalan yang banjir. Akhirnya, karena sekalian ayah dan ibu berangkat bekerja, aku pun diantar menuju kantor.
Kami memilih jalur tanggul yang relatif tidak macet, tetapi saat memasuki arah Jembatan KCM, kemacetan luar biasa kembali terjadi. Aku benar-benar terjebak di sana hampir selama satu jam. Setelah itu, ayah mencoba mencari jalan alternatif agar bisa sampai lebih cepat ke kantor. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya aku tiba di kantor dalam kondisi pagi yang sangat hectic, bahkan tidak sempat sarapan sama sekali.
Sesampainya di kantor, perasaanku bercampur antara lega dan tidak enak hati karena ini adalah pertama kalinya aku datang terlambat selama magang. Setelah duduk, aku langsung fokus mengerjakan pekerjaanku. Aku mulai dengan menginput petty cash yang cukup menumpuk, men-scan satu per satu bukti kwitansi untuk diinput ke Zoho, serta mengategorikan setiap pengeluaran dengan teliti. Dalam proses ini, aku juga beberapa kali berkoordinasi dengan Pak Andez dan Pak Afandi untuk memastikan data yang aku input sudah sesuai.
Tidak terasa waktu istirahat pun tiba. Kebetulan hari ini aku membawa bekal yang dibuat oleh mamahku. Namun, karena Mbak Zahro, Mbak Nanda, dan Dila ingin jajan ke Shell, aku pun ikut bersama mereka meskipun cuaca masih gerimis. Di sana aku membeli sosis, donat, dan keripik sebagai pendamping makan siang. Sejujurnya, aku sangat lapar karena belum sempat sarapan sejak pagi.
Setelah membeli camilan, aku dan Dila kembali ke kantor lebih dulu, sementara Mbak Zahro dan Mbak Nanda melanjutkan membeli nasi Padang di depan kantor. Sesampainya di kantor, aku menikmati makan siang sambil menonton YouTube Lapor Pak, yang cukup menghibur di tengah hari yang melelahkan.
Usai makan, aku kembali melanjutkan pekerjaan. Aku meminta tanda tangan untuk invoice yang akan dikirim hari ini. Ketika hendak mulai men-scan invoice, Mbak Zahro mengirim pesan agar aku mengikuti briefing sebentar. Hari ini jumlah invoice yang harus dikirim cukup banyak, sehingga aku memang membutuhkan waktu ekstra untuk men-scan satu per satu dokumen.
Setelah briefing singkat di lantai atas yang membahas pembagian tugas untuk tim magang dan staf baru, aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku men-scan seluruh invoice, melakukan packing satu per satu, lalu menginformasikan kepada Mang Gun untuk mengirim invoice tersebut ke JNE. Setelah itu, aku membuat file Excel sebagai arsip dokumen invoice.
Menjelang akhir hari, aku menulis laporan magang untuk diunggah ke web magang dan mencetak persiapan dokumen yang ditugaskan oleh mentorku.
Singkatnya, meskipun hari ini dimulai dengan hujan, macet, dan keterlambatan, semua pekerjaan tetap bisa aku selesaikan dengan baik. Sampai jumpa di cerita hari berikutnya.
Leave a Reply