Setiap hari selalu punya cerita, sekecil apa pun itu. Ada hari yang terasa ringan, ada pula yang penuh tantangan. Lewat tulisan ini, aku ingin mengabadikan proses yang sedang aku jalani, sekaligus belajar untuk lebih menghargai setiap langkah kecil dalam keseharian.
Cerita hari ini dimulai saat aku bangun pukul 04.00 pagi. Pagi itu aku bertugas merebus jagung, kacang, ubi, dan pisang untuk sarapan di kantor, sesuai dengan informasi yang sebelumnya disampaikan oleh Pak Andez. Setelah semua selesai, sekitar pukul 05.30 aku mulai bersiap untuk berangkat menjalani aktivitas seperti biasa, yaitu magang.
Karena membawa cukup banyak barang, ayah dan mimi sempat berniat mengantarku ke kantor. Namun, mengingat jalur yang biasa aku lewati sering macet, aku memutuskan untuk berangkat menggunakan motor. Di perjalanan, aku sempat bingung ingin membeli sarapan apa. Akhir-akhir ini nafsu makanku memang sedang menurun. Kadang meningkat, tetapi tidak bertahan lama. Justru rasa tidak ingin makan yang lebih sering bertahan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak membeli sarapan di jalan dan berencana mencarinya setelah menaruh hasil rebusan di pantry kantor. Setelah semuanya tersusun rapi, aku mencoba melihat-lihat di supermarket Shell dengan harapan menemukan makanan yang cocok untuk sarapan. Sayangnya, tidak ada yang menarik perhatianku. Aku pun keluar dan memilih membeli risol serta beberapa camilan di warung depan kantor. Kembali ke kantor terasa cukup menantang karena, sejujurnya, aku masih kurang percaya diri untuk menyeberang jalan sendiri.
Sesampainya di kantor, aku membuka laptop dan mulai sarapan dengan risol yang sudah dibeli. Setelah itu, aku menyempatkan diri menyelesaikan sedikit misi Duolingo. Tepat pukul 08.00, aku mengikuti briefing bersama tim magang dan PKL yang membahas progres tugas mind map. Saat ini aku baru memiliki gambaran konsep, tetapi belum mengimplementasikannya ke dalam aplikasi. Karena itu, pada briefing kali ini Zahwa yang mempresentasikan hasil mind map-nya. Aku juga sempat mengajukan beberapa pertanyaan terkait tugas tersebut kepada Mbak Nanda dan Mbak Zahro. Briefing berlangsung singkat dan selesai sekitar pukul 08.30.
Setelah briefing, aku mengecek Telegram karena biasanya Mbak Ami mengirimkan mutasi rekening untuk proses rekonsiliasi. Namun, ternyata rekonsiliasi sudah dikerjakan terlebih dahulu. Aku sempat bertanya mengapa bukan aku yang mengerjakannya, dan Mbak Ami menjelaskan bahwa beliau mengira aku masih mengikuti meeting. Meski begitu, Mbak Ami memberikan tugas baru, yaitu menginput bill Biznet agar saldo di aplikasi Biznet dan Zoho bisa balance.
Tugas ini menjadi pengalaman dan ilmu baru bagiku. Mbak Ami dengan sabar menjelaskan langkah-langkahnya, dan aku sangat bersyukur mendapatkan mentor yang telaten dalam membimbing. Saat proses pengerjaan, sempat ditemukan ketidaksesuaian saldo yang ternyata disebabkan oleh penginputan ganda antara aku dan Mbak Ami. Setelah sumber masalah ditemukan dan diperbaiki, akhirnya data di Biznet dan Zoho kembali balance.
Setelah tugas tersebut selesai, aku kembali melanjutkan misi Duolingo. Kali ini sempat ada kendala karena beberapa jawaban salah sehingga heart habis, dan aku harus melakukan practice beberapa kali agar bisa melanjutkan hingga daily mission selesai. Setelah itu, aku meluangkan waktu untuk membaca Catatan Harian Dahlan sebagai bentuk konsistensi dalam menambah wawasan.
Tak lama kemudian, aku mendapat notifikasi di Telegram dari Pak Andez bahwa hari ini akan menjenguk Mbak Mardiah yang baru saja melahirkan, dengan jadwal keberangkatan pukul 14.00. Saat jam makan siang tiba, aku memutuskan membeli ayam geprek dengan menitipkan pesanan bersama Cipa. Setelah makan, aku kembali melanjutkan pekerjaan sambil menunggu waktu keberangkatan.
Menjelang pukul 14.00, hujan turun cukup deras. Pak Andez sudah bersiap untuk berangkat, dan aku pun mengenakan jaket sambil melihat Zahwa dan Cipa menyerahkan hasil karya mereka sebagai kenang-kenangan, karena besok adalah hari terakhir mereka magang. Jujur, aku merasa cukup sedih. Meski baru mengenal mereka sekitar satu bulan, Zahwa dan Cipa adalah teman yang seru. Semoga suatu hari nanti kami bisa bertemu kembali.
Meski hujan belum reda, kami tetap memutuskan berangkat. Aku menggunakan motor sendiri, meskipun sempat ragu karena takut tersesat. Aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti rombongan sambil mengenakan jas hujan dan sandal pinjaman dari kantor. Lucunya, baru keluar dari gang kantor saja, arah yang ditunjukkan lewat maps sudah sempat salah. Setelah berputar arah, akhirnya kami berkonvoi menuju rumah Mbak Mardiah. Rombongan hari itu terdiri dari aku, Pak Andez, Mbak Nanda, Mbak Zahro, Zahwa, Cipa, Mas Labib, dan Mas Bagus.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit lebih, kami tiba di rumah Mbak Mardiah. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu langsung dengan beliau karena sebelumnya Mbak Mardiah sedang cuti melahirkan. Kami berbincang cukup lama dan disuguhi bakso di sore hari. Setelah makan dan mengobrol, kami pun memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, aku menyadari bahwa aku memang tipe orang yang sulit menghafal jalan. Bahkan dengan bantuan maps pun, aku masih sering ragu. Karena itu, aku memilih mengikuti arah tim lain hingga akhirnya sampai di jalan besar yang terasa familiar. Jalan tersebut adalah jalur yang dulu sering aku lewati saat bekerja di Cikarang. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit lebih karena macet, akhirnya aku tiba di rumah.
Ayah langsung membukakan pintu, dan aku pun menghabiskan beberapa menit untuk bercerita tentang hari ini bersama keluargaku.
Sekian ceritaku hari ini.
Leave a Reply