Hai, selamat datang lagi di ceritaku 🌙
Lebaran sudah lewat.
Ketupat sudah mulai habis, kue-kue juga tinggal sisa, dan ucapan “mohon maaf lahir dan batin” perlahan mulai jarang terdengar.
Tapi justru di situ aku mulai kepikiran satu hal:
setelah lebaran, apa yang sebenarnya berubah?
Karena kalau dipikir-pikir, lebaran itu selalu terasa spesial.
Ada momen kumpul keluarga, saling maaf-maafan, makan bareng, dan suasana hangat yang jarang banget bisa dirasain di hari biasa.
Beberapa hari itu terasa penuh.
Penuh tawa, penuh cerita, dan entah kenapa… hati juga terasa lebih ringan.
Tapi setelah semuanya selesai, hidup pelan-pelan kembali ke rutinitas.
Bangun pagi, kerja lagi, menjalani hari seperti biasa.
Dan di titik itu, aku mulai sadar jangan sampai semua yang terasa “baik” saat lebaran cuma berhenti di situ aja.
Karena sebenarnya, lebaran bukan cuma soal hari raya.
Tapi tentang apa yang kita bawa setelahnya.
Apakah kita masih se-sabar saat menahan emosi seperti di bulan Ramadhan?
Apakah kita masih menjaga hubungan baik dengan orang lain?
Atau semuanya perlahan kembali seperti sebelumnya?
Jujur, aku juga belum sempurna.
Masih sering lupa, masih sering ke distract, masih sering balik ke kebiasaan lama.
Tapi mungkin, perubahan itu memang nggak harus besar.
Nggak harus langsung jadi “versi terbaik”.
Cukup mulai dari hal kecil.
Lebih sabar sedikit, lebih sadar sedikit, lebih menghargai waktu sedikit.
Karena ternyata, yang sulit bukan menjalani Ramadhan atau merayakan lebaran…
tapi menjaga apa yang sudah kita bangun setelah semuanya selesai.
Sekarang, setelah lebaran benar-benar berlalu, aku cuma berharap satu hal:
semoga aku nggak kembali ke titik yang sama seperti sebelumnya.
Nggak harus jauh berubah,
yang penting… ada langkah kecil ke arah yang lebih baik.
Karena mungkin, itu makna sebenarnya dari “kembali fitri” 🤍
Leave a Reply