Ada kalanya aku merasa sudah hafal suatu tempat, padahal sebenarnya aku cuma hafal jalannya.
Misalnya jalan dari rumah, jalan menuju kantor, atau tempat yang sering aku datangi. Aku tahu harus belok di mana, lampu merahnya ada berapa, biasanya macet di bagian mana, bahkan mungkin tahu kalau sudah melewati satu toko berarti sebentar lagi sampai. Tapi kalau ditanya, “Di sekitar situ ada apa saja?” belum tentu aku bisa jawab.
Belakangan aku sadar, ternyata selama ini aku lebih sering melihat sesuatu karena memang harus melihatnya, bukan karena benar-benar memperhatikannya.
Padahal kalau sedang tidak terburu-buru, ada banyak hal kecil yang ternyata baru kelihatan. Warna langit yang berbeda dari biasanya, rumah yang tiba-tiba punya tanaman baru, warung yang berganti papan nama, atau orang yang setiap pagi mungkin melakukan hal yang sama di tempat yang sama.
Lucunya, sesuatu yang sudah kita lewati berkali-kali bisa terasa seperti tempat baru hanya karena kita sedang lebih memperhatikan.
Mungkin itu juga yang membuat perjalanan terasa menyenangkan. Bukan selalu karena tempatnya jauh atau pemandangannya bagus, tapi karena kita sedang berada dalam kondisi yang membuat kita mau melihat lebih banyak. Jalan yang biasanya cuma dilewati bisa jadi menarik. Stasiun yang biasanya terasa ramai bisa punya cerita sendiri. Bahkan perjalanan pulang yang sederhana bisa meninggalkan sesuatu yang tidak kita rencanakan.
Aku jadi berpikir, mungkin bukan tempatnya yang berubah. Kadang justru cara kita melihatnya yang berubah.
Dan mungkin hal seperti ini juga berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita, tapi baru terasa ketika kita berhenti sebentar dan benar-benar memperhatikannya.
Tidak harus selalu mencari pengalaman baru. Kadang cukup melihat hal lama dengan cara yang sedikit berbeda.
Karena ternyata, kita bisa saja sudah sering melewati sesuatu tanpa pernah benar-benar melihatnya.