Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Adzka Journal

My WordPress Blog

Adzka Journal

My WordPress Blog

  • Home
  • About
  • Sample Page
  • Home
  • About
  • Sample Page
Subscribe
Close

Search

Uncategorized

Satu Orang untuk Banyak Cerita

By adzka
September 23, 2026 3 Min Read
0

Ketika kita punya partner untuk deep talk yang nggak bisa kita ceritain ke siapa-siapa, itu rasanya cukup lega.

Kadang menceritakan sesuatu, apalagi tentang diri kita sendiri, lumayan sulit untuk memilah dan memilih mana yang bisa kita percaya. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin diceritakan, tapi di saat yang sama kita juga berpikir berkali-kali, “Kalau aku cerita ini, nanti akan bagaimana?”

Aku adalah orang yang cukup terbuka dengan sekitar dan lingkunganku. Aku cukup mudah bercerita, cukup mudah ngobrol tentang banyak hal, dan dulu rasanya nggak terlalu sulit untuk mempercayai seseorang.

Tetapi dari beberapa pengalamanku, akhirnya aku memiliki satu ketakutan, yaitu mempercayai orang.

Ada satu kalimat dari seseorang yang sampai sekarang masih melekat di kepalaku, yaitu:

“Siapkan ruang kecewa untuk siapapun, because people change easily.”

Mungkin kalimat itu terdengar sederhana, tapi semakin bertambah umur, aku semakin mengerti maksudnya.

Yang paling berat untukku adalah ketika kita sangat mempercayai seseorang. Dulu, sebelum umurku sekarang, aku dengan mudahnya menceritakan apa pun yang sedang aku alami ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Aku nggak terlalu banyak berpikir apakah cerita itu terlalu pribadi atau tidak, karena rasanya aku memang sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Tetapi sekarang aku belajar untuk lebih tertutup dengan apa yang aku rasakan.

Di satu sisi, sulit sekali menjadi pribadi yang sebenarnya tidak aku mau. Karena aku yang dulu terbiasa bercerita, sekarang harus belajar menyimpan beberapa hal sendiri. Kadang semuanya tertanam di dalam hati dan nggak tahu harus dikeluarkan ke mana. Sampai akhirnya bisa meledak juga sewaktu-waktu.

Tapi aku mempunyai cara untuk hal tersebut, yaitu menyendiri.

Dulu, menyendiri itu adalah hal yang cukup menakutkan untukku yang sangat extrovert ini. Aku lebih suka berada di sekitar orang, ngobrol, bertemu teman, dan melakukan banyak hal bersama orang lain.

Tapi untuk sekarang, aku mulai merasa memang kita butuh dan perlu menyendiri untuk mengevaluasi diri sendiri.

Kadang dengan menyendiri, aku bisa lebih memahami apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Bisa membedakan mana yang memang perlu diceritakan dan mana yang cukup aku simpan sendiri. Bisa berpikir tanpa harus takut salah bicara atau membuat orang lain salah memahami apa yang ingin aku sampaikan.

Karena ternyata banyak sekali ketakutan yang aku rasakan.

Salah satunya adalah menyakiti perasaan orang dengan kata-kataku.

Ada satu kalimat juga yang cukup aku ingat selalu:

“Jika tidak bisa berkata hal baik, maka diam lebih baik.”

Mungkin karena itu juga sekarang aku lebih banyak berpikir sebelum bercerita. Bukan karena aku nggak punya cerita, bukan juga karena aku nggak ingin terbuka. Tapi aku hanya ingin lebih berhati-hati dengan apa yang keluar dari mulutku.

Maka dari itu, mempunyai seseorang yang sama terbukanya denganku, aku cukup lega.

Karena aku nggak merasa aku sedang oversharing. Rasanya seimbang.

Kita sama-sama mendengarkan dan bercerita.

Nggak hanya aku yang bercerita tentang apa yang sedang aku rasakan, tapi aku juga bisa mendengarkan cerita dari sisi lainnya. Nggak hanya aku yang punya ruang untuk menjadi diri sendiri, tapi dia juga punya ruang yang sama.

Dan mungkin, itu yang selama ini aku cari dari sebuah hubungan dengan seseorang.

Bukan seseorang yang selalu punya jawaban untuk semua ceritaku. Bukan juga seseorang yang harus selalu ada setiap saat.

Tapi seseorang yang membuatku merasa aman untuk bercerita tanpa harus berpikir terlalu jauh tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Karena pada akhirnya, mempercayai seseorang memang selalu punya kemungkinan untuk kecewa.

Tapi rasanya tetap menyenangkan ketika kita masih bisa menemukan seseorang yang membuat kita berani untuk percaya lagi, pelan-pelan.

Author

adzka

Follow Me
Other Articles
Previous

Satu Pagi di Masa Kos

Next

Ada kalanya aku merasa sudah hafal suatu tempat, padahal sebenarnya aku cuma hafal jalannya.

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2026 — Adzka Journal. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme