Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Adzka Journal

My WordPress Blog

Adzka Journal

My WordPress Blog

  • Home
  • About
  • Sample Page
  • Home
  • About
  • Sample Page
Subscribe
Close

Search

Uncategorized

Dulu Sweet Tooth, Sekarang Belajar Mengurangi Gula

By adzka
August 19, 2026 2 Min Read
0

Dulu, waktu masih SMA sampai kuliah, aku termasuk orang yang suka banget makanan dan minuman manis. Rasanya hampir semua yang aku pesan harus ada manis-manisnya. Apalagi waktu kuliah, kalau pergi ke coffee shop untuk sekadar ngobrol sama teman atau mengerjakan tugas, pesananku hampir selalu minuman yang manis.

Lucunya, walaupun tempatnya coffee shop, aku sebenarnya nggak bisa minum kopi. Aku juga nggak terlalu suka kopi karena menurutku pait. Jadi kalau teman-teman pesan kopi, aku biasanya mencari minuman lain yang lebih manis. Hehehe.

Waktu itu aku nggak pernah benar-benar memikirkan dampaknya. Pokoknya kalau enak dan aku suka, ya sudah diminum atau dimakan. Bahkan dulu aku bisa dalam sehari beli es krim dan cokelat. Sampai pernah dibilang sweet tooth sama temanku karena memang sesuka itu sama makanan manis.

Sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang mulai mengingatkanku tentang kebiasaan tersebut. Dia pernah bilang kalau terlalu sering mengonsumsi minuman atau makanan manis juga nggak baik untuk tubuh. Awalnya aku nggak langsung berubah sih, karena mengurangi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan ternyata nggak semudah itu.

Tapi pelan-pelan aku mulai membiasakan diri untuk memilih minuman yang nggak manis. Salah satunya ya air putih.

Awalnya susah banget. Minum air putih rasanya seperti, “Hah, cuma air putih?” Wkwkwk. Setelah terbiasa minum minuman manis, ternyata lidah juga perlu beradaptasi ketika kita mulai mengurangi rasa manis.

Selain kebiasaan itu, aku juga mulai sadar kalau berat badanku cukup terlihat dari bagian wajah, terutama pipi. Waktu kuliah, ini sempat membuatku kurang percaya diri. Apalagi ketika melihat teman-temanku yang menurutku cantik dengan pipi yang lebih tirus, sementara pipiku malah terlihat agak tembem. Hehehe.

Kemudian, di masa-masa mengerjakan tugas akhir, berat badanku juga sempat turun cukup banyak, sekitar 7 kilogram. Mungkin karena stres, pola makan yang berubah, ditambah kebiasaan mengurangi gula tadi. Setelah itu, berat badanku perlahan kembali stabil di angka yang normal.

Dari pengalaman itu, aku jadi belajar bahwa mengubah kebiasaan memang membutuhkan waktu. Kita nggak harus langsung berhenti total dari sesuatu yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Yang penting, kita mulai sadar dan mencoba mengurangi sedikit demi sedikit.

Sampai sekarang pun aku masih makan makanan manis dan sesekali minum yang manis. Aku juga nggak mau sok bilang sudah sepenuhnya meninggalkan gula, karena kenyataannya belum. Bedanya, sekarang porsinya sudah jauh lebih sedikit dibandingkan dulu.

Dulu mungkin aku minum manis karena memang ingin, tanpa pernah berpikir panjang. Sekarang setidaknya aku sudah mulai bertanya kepada diri sendiri, “Aku benar-benar mau atau cuma karena sudah terbiasa?”

Ternyata perubahan kecil seperti memilih air putih daripada minuman manis juga bisa menjadi bentuk belajar menjaga diri.

Dan dari semua itu, aku jadi semakin sadar kalau menghilangkan kebiasaan buruk memang nggak mudah. Tapi bukan berarti kita nggak bisa berubah. Kadang kita hanya perlu mulai dari hal kecil, dilakukan pelan-pelan, sampai akhirnya kebiasaan baru itu terasa normal.

Jadi, untuk diriku yang dulu bisa sehari makan es krim, cokelat, dan minum manis tanpa berpikir dua kali…

Ternyata sekarang aku lebih sering memilih air putih. Lumayan banget perkembangannya. Hehehe.

Author

adzka

Follow Me
Other Articles
Previous

Rasa Penasaran Itu Harus Dilakukan

Next

Belajar Berpikir Sebelum Berkomentar

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2026 — Adzka Journal. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme