Untuk Diriku Setahun yang Lalu
Kemarin, saat sedang melihat kembali arsip Instagram Story, muncul sebuah pengingat yang membuatku berhenti sejenak. Ternyata, tepat satu tahun yang lalu adalah hari ketika aku menjalani sidang Tugas Akhir.
Rasanya seperti baru kemarin.
Aku masih ingat bagaimana campur aduknya perasaanku saat itu. Tegang, gugup, dan gemetar. Rasanya seperti sedang menghadapi salah satu momen paling menegangkan selama menjadi mahasiswa. Semua usaha, begadang, revisi, dan doa seolah dipertaruhkan di hari itu.
Di tengah rasa gugup itu, ada satu kejadian yang sampai sekarang masih kuingat. Aku mendapat kabar bahwa dosen penguji keduaku berhalangan hadir dan digantikan oleh dosen lain. Sebenarnya aku sudah mengenal beliau karena pernah diajar di salah satu mata kuliah. Justru karena terlalu gugup, saat sesi pembukaan aku malah lupa menyebut nama beliau.
Ya, aku benar-benar lupa.
Saat itu rasanya ingin mengulang beberapa detik sebelumnya. Aku langsung merasa bersalah sekaligus semakin gugup. Untungnya, beliau tidak marah. Beliau memaklumi kondisiku yang sedang tegang, dan sidang tetap berjalan dengan baik. Sampai sekarang, setiap mengingat momen itu aku masih suka tersenyum sendiri sambil berkata dalam hati, “Kok bisa, ya?”
Melihat pengingat itu membuatku sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sudah satu tahun berlalu. Rasanya baru kemarin aku masih sibuk menjadi mahasiswa yang dikejar revisi dan mempersiapkan sidang. Sekarang, aku sudah menjalani kehidupan yang berbeda sebagai seorang pekerja.
Kadang aku masih sulit percaya bahwa satu tahun bisa membawa banyak perubahan. Rutinitasku berubah, tanggung jawabku bertambah, dan cara pandangku terhadap banyak hal juga ikut berkembang. Namun, ada satu hal yang sampai hari ini masih belum berubah.
Aku masih memiliki mimpi yang sama.
Aku masih ingin melanjutkan pendidikan sambil bekerja. Entah sudah berapa kali aku mengucapkan keinginan ini, baik kepada orang-orang terdekat maupun lewat tulisan di blog. Mungkin ada yang berpikir kenapa aku sering sekali membahasnya.
Jawabannya sederhana.
Karena bagiku, setiap kali aku mengucapkannya, itu bukan sekadar cerita. Itu adalah doa.
Aku percaya bahwa doa yang terus diulang adalah bentuk harapan yang terus dijaga. Aku berharap suatu hari nanti Allah memberikan jalan dan rezeki yang cukup agar aku bisa kembali duduk di bangku kuliah tanpa harus meninggalkan pekerjaanku. Aku ingin terus belajar, berkembang, dan membuka lebih banyak kesempatan di masa depan.
Jadi, kalau kamu sedang membaca tulisan ini, aku punya satu permintaan kecil.
Doakan aku, ya.
Semoga Allah memudahkan jalanku untuk bisa melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Semoga diberikan kesehatan, kesempatan, dan rezeki yang cukup untuk mewujudkan mimpi itu.
Siapa tahu, doa dari orang-orang yang membaca tulisan ini menjadi salah satu jalan yang Allah kabulkan.
Dan untuk diriku setahun yang lalu…
Terima kasih sudah berani melewati hari yang saat itu terasa sangat menakutkan. Ternyata, semua rasa gugup itu berhasil kamu lewati. Sekarang, perjalananmu masih panjang. Tetap semangat, tetap rendah hati, dan jangan pernah berhenti bermimpi.
Semoga bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, Adzka. Aamiiin.
Mudah-mudahan Excellent bisa memberikan support dan dorongan agar Adzka bisa menjalani jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Aamiin Pak Boss…
Terima kasih Pak Boss atas support-nya..
Aamiin. Semangat, Adzkuyy
Terima kasih mba zahroo