Kenangan yang Tidak Pernah Terulang
Kalau ada satu kegiatan selama masa kuliah yang masih sering aku ingat sampai sekarang, mungkin ini adalah salah satunya.
Saat itu aku mengikuti kegiatan Penyuluhan dan Diskusi Kelembagaan Ormawa yang diadakan di Jatiluhur. Kegiatan ini diikuti oleh organisasi mahasiswa di bawah naungan Program Studi Accounting and Tax FEB, bersama para dosen dan Kaprodi. Tanpa kami sadari, acara ini menjadi salah satu kegiatan terakhir yang kami ikuti sebelum nantinya sibuk dengan kesibukan masing-masing.
Perjalanan menuju Jatiluhur saja sudah terasa menyenangkan. Kami berangkat bersama dalam satu rombongan. Di tengah perjalanan, kami sempat singgah ke sebuah tempat pengrajin keramik. Di sana aku melihat berbagai hasil karya dari tanah liat yang diolah menjadi berbagai macam benda, mulai dari gelas, asbak, vas bunga, hingga hiasan lainnya yang kemudian diberi lukisan dengan motif yang indah. Melihat proses pembuatannya membuatku semakin menghargai setiap karya yang dihasilkan dengan penuh ketelatenan.

Setelah sampai di hotel, acara utama pun dimulai. Sesuai namanya, kegiatan ini dipenuhi dengan sesi diskusi antara organisasi mahasiswa, dosen, dan Kaprodi. Kami membahas berbagai program kerja, mengevaluasi kegiatan yang sudah berjalan, serta berdiskusi mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki ke depannya.
Namanya juga diskusi yang melibatkan dua organisasi dalam satu program studi, tentu saja tidak semua pendapat selalu sama. Ada beberapa momen ketika suasana menjadi cukup serius karena masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. Namun, justru dari perbedaan itulah kami belajar untuk saling mendengarkan, memahami sudut pandang orang lain, dan mencari solusi yang bisa diterima bersama. Pada akhirnya, semua pembahasan berhasil menemukan jalan tengah.
Setelah seluruh rangkaian diskusi selesai dan kami kembali ke hotel, suasana berubah menjadi jauh lebih santai. Setelah membersihkan diri, aku dan beberapa teman memilih duduk di pinggir kolam. Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari cerita selama kuliah, pengalaman di organisasi, hingga hal-hal sederhana yang sekarang justru menjadi kenangan. Tidak ada agenda resmi, tidak ada diskusi yang serius, hanya percakapan yang mengalir begitu saja. Entah kenapa, momen itu menjadi salah satu bagian yang paling membekas dalam ingatanku.
Keesokan paginya, sebelum pulang, kami mengikuti kegiatan permainan bersama para dosen dan Kaprodi. Rasanya cukup berbeda melihat mereka di luar suasana kelas. Biasanya kami bertemu dalam situasi yang formal, tetapi pagi itu kami bisa tertawa, bermain, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat antara dosen dan mahasiswa. Menurutku, inilah salah satu momen yang benar-benar mempererat hubungan kami.
Tidak terasa, waktu untuk pulang pun tiba. Kami kembali ke kampus sambil membawa cerita masing-masing. Saat itu mungkin kami tidak menyadari bahwa kegiatan tersebut akan menjadi salah satu kenangan terakhir sebagai mahasiswa yang masih aktif mengikuti kegiatan kampus.
Sekarang, ketika mengingat kembali perjalanan itu, yang paling kuingat bukan hanya tempat yang kami kunjungi atau materi yang kami diskusikan. Yang paling berkesan justru kebersamaan yang tercipta selama dua hari tersebut. Karena pada akhirnya, sebuah perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tetapi juga tentang siapa yang menemani perjalanan itu.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa sampai hari ini Jatiluhur masih memiliki tempat tersendiri di dalam ingatanku.