Tentang Suara yang Membekas
Semalam dan kemarin ada satu hal yang cukup membekas di pikiranku. Jujur saja, aku melihatnya hanya sekilas, jadi mohon maaf kalau ada bagian yang kurang tepat. Tapi kadang memang ada momen yang walaupun hanya sebentar dilihat, entah kenapa bisa tertinggal cukup lama di kepala.
Beberapa waktu lalu sempat ramai berita mengenai mahasiswa yang melakukan aksi di depan gedung DPR. Mungkin karena salah satu yang ikut berasal dari kampus tempat aku dulu kuliah, tanpa sadar aku jadi sedikit mengikuti beritanya. Tidak sedalam dulu waktu masih menjadi mahasiswi yang rasanya selalu penasaran ingin mengikuti banyak isu, tapi setidaknya aku masih sesekali melihat perkembangannya.
Dan di antara berbagai potongan video atau berita yang lewat, ada satu momen yang menarik perhatianku. Seorang mahasiswi dari UI sedang menyampaikan pendapatnya di hadapan beberapa perwakilan pemerintah. Yang paling membuatku teringat bukan hanya isi pembicaraannya, tetapi cara dia menyampaikannya.
Cara bicaranya tenang. Jelas. Tegas, tapi tetap terdengar sopan. Tidak berteriak, tidak terlihat gugup, dan setiap kalimat yang keluar terasa seperti memang dipikirkan dengan baik.
Entah kenapa, melihat hal itu aku langsung berpikir, ternyata kemampuan berbicara di depan banyak orang memang luar biasa ya. Bukan sekadar soal berani memegang mikrofon atau berdiri di depan banyak orang. Tapi bagaimana seseorang bisa menyampaikan apa yang dipikirkan sehingga orang lain mau mendengarkan.
Menurutku menyuarakan pendapat juga bukan hal yang mudah. Apalagi ketika berbicara di hadapan orang-orang penting atau banyak orang yang mendengarkan. Pasti ada rasa gugup, ada tekanan, dan mungkin ada rasa takut salah bicara. Tapi saat melihat mahasiswi itu berbicara, yang terlihat justru keberanian dan keyakinan terhadap apa yang sedang dia sampaikan.
Mungkin itu juga yang membuat momen tersebut membekas. Karena di zaman sekarang, saat banyak orang lebih nyaman menyampaikan pendapat melalui kolom komentar atau layar ponsel, melihat seseorang berdiri dan menyampaikan pikirannya secara langsung terasa memiliki kesan tersendiri.
Aku jadi teringat masa-masa menjadi mahasiswi dulu. Rasanya waktu itu lebih sering mengikuti banyak hal, lebih sering penasaran dengan berbagai isu, dan lebih aktif mencari tahu banyak hal. Sekarang mungkin fokusnya sudah mulai berbeda. Ada dunia kerja, tanggung jawab baru, dan rutinitas yang berjalan setiap hari.
Tapi ternyata ada hal-hal tertentu yang masih bisa membuat rasa itu muncul lagi. Rasa penasaran, rasa kagum, atau sekadar perasaan, “Wah, keren juga ya.”
Kadang sesuatu yang membekas tidak harus datang dari hal yang besar. Bisa jadi hanya dari beberapa menit melihat seseorang berbicara, lalu tanpa sadar membuat kita ikut belajar sesuatu darinya.