Fenomena FOMO di Era Media Sosial: Takut Tertinggal atau Terlalu Membandingkan?
Di zaman sekarang, media sosial sudah menjadi bagian yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bangun tidur sampai sebelum tidur lagi, banyak orang yang tanpa sadar membuka Instagram, TikTok, X, atau platform media sosial lainnya. Hanya dengan beberapa kali scroll, kita bisa melihat banyak hal dalam waktu singkat.
Kita bisa melihat teman yang sedang liburan ke luar kota, seseorang yang baru membeli kendaraan impiannya, orang lain yang baru diterima kerja, lulus kuliah, membuka bisnis, membeli rumah, atau sekadar menikmati kopi di tempat yang sedang viral. Semua terlihat menarik, menyenangkan, dan kadang membuat orang lain ikut merasa ingin memiliki hal yang sama.
Di balik semua kemudahan itu, ada satu fenomena yang semakin sering dibahas, yaitu FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal.
FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa khawatir jika dirinya melewatkan sesuatu yang dianggap menarik, penting, atau sedang ramai dilakukan oleh banyak orang. Perasaan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk. Tidak selalu besar, bahkan hal-hal kecil pun bisa memicunya.
Misalnya ketika melihat teman-teman sedang berkumpul tanpa kita, muncul rasa seperti ada yang kurang. Ketika ada tempat baru yang viral dan semua orang mulai datang ke sana, kita ikut merasa ingin datang juga. Saat melihat banyak orang mencapai sesuatu lebih cepat, muncul pertanyaan dalam pikiran, “Kenapa orang lain sudah sampai di sana, sedangkan aku masih di sini?”
Hal seperti ini mungkin pernah dirasakan hampir semua orang.
Yang membuat FOMO semakin kuat adalah cara media sosial bekerja. Sebagian besar orang biasanya membagikan bagian terbaik dari kehidupan mereka. Foto saat bahagia, pencapaian yang membanggakan, momen liburan, hadiah, atau hal-hal menyenangkan lainnya.
Jarang ada orang yang mengunggah proses panjang di balik pencapaian tersebut. Jarang ada yang memperlihatkan rasa lelah, kegagalan, rasa takut, atau perjuangan yang mereka alami sebelumnya.
Akibatnya, banyak orang mulai membandingkan kehidupan mereka dengan apa yang dilihat di media sosial. Padahal yang dibandingkan sering kali tidak seimbang. Kita membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh proses dengan potongan momen terbaik dari kehidupan orang lain.
Tanpa disadari, hal ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ada yang mulai merasa tertinggal, merasa kurang berhasil, bahkan merasa hidupnya tidak cukup menarik dibanding orang lain.
Bahkan dalam beberapa kasus, FOMO juga memengaruhi keputusan sehari-hari. Misalnya membeli barang hanya karena sedang tren, mengikuti gaya hidup tertentu agar tidak dianggap ketinggalan, atau memaksakan diri untuk selalu mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan.
Padahal tidak semua yang terlihat menarik di media sosial benar-benar dibutuhkan. Tidak semua hal yang sedang viral harus dicoba. Dan tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi ukuran keberhasilan diri sendiri.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Ada yang mencapai sesuatu lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang sudah menemukan jalannya lebih awal, sementara yang lain masih menikmati proses mencarinya.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, terkadang yang dibutuhkan bukanlah berlari lebih cepat dari orang lain, tetapi belajar menikmati proses diri sendiri.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap merasa cukup, berkembang, dan bahagia dengan perjalanan yang sedang dijalaninya.