Hari Kamis kemarin akhirnya jadi momen di mana aku benar-benar mencoba pilates untuk pertama kalinya. Setelah sekian lama cuma jadi rencana dan sering bilang “nanti aja”, akhirnya aku benar-benar datang ke kelasnya. Jujur, dari awal sudah ada rasa deg-degan takut nggak bisa ngikutin gerakan, takut kaku, atau malah jadi yang paling bingung sendiri. Tapi begitu kelas dimulai, ternyata suasananya jauh lebih santai dari yang aku bayangkan. Instrukturnya jelas dalam menjelaskan gerakan, dan walaupun ada beberapa gerakan yang terasa asing, aku tetap bisa menikmati prosesnya. Bahkan sempat terpikir, ternyata pilates nggak sesulit yang selama ini aku bayangkan.
Gerakannya memang terlihat sederhana, tapi saat dijalani ternyata cukup menantang. Banyak bagian tubuh yang harus benar-benar dikontrol, terutama core dan keseimbangan. Di situ aku mulai sadar kalau selama ini tubuhku jarang diajak “kerja” dengan cara seperti ini. Lucunya, setelah kelas selesai, aku merasa baik-baik saja. Tidak ada rasa sakit yang berarti, bahkan sempat berpikir kalau efeknya mungkin tidak akan terlalu terasa.
Ternyata aku salah. Keesokan harinya mulai terasa pegal, walaupun masih bisa ditahan. Masuk hari kedua, rasa pegalnya semakin terasa, terutama di bagian perut dan kaki. Dan di hari ketiga, hampir semua otot terasa sakit. Gerakan sederhana seperti bangun dari duduk atau berjalan pun jadi terasa lebih berat dari biasanya. Rasanya seperti seluruh tubuh sedang beradaptasi dengan sesuatu yang benar-benar baru.
Walaupun terasa tidak nyaman, ada juga rasa puas yang muncul. Seperti ada bukti bahwa tubuhku benar-benar bekerja dan berproses. Dari pengalaman pertama ini, aku jadi lebih memahami kenapa banyak orang menyukai pilates. Bukan hanya soal olahraga, tapi juga tentang mengenal tubuh sendiri dan belajar mengontrolnya. Karena ternyata, memulai sesuatu yang baru memang selalu ada “harga” yang harus dibayar dan dalam hal ini, rasa pegal itu terasa sepadan.
Leave a Reply