Kalau mengingat masa-masa terakhir kuliah, rasanya memang campur aduk banget. Di satu sisi sudah mulai dekat dengan kelulusan, tapi di sisi lain justru banyak hal yang harus dihadapi, terutama soal tugas akhir. Dulu aku sempat berpikir kalau bagian paling sulit dari kuliah itu ada di ujian atau banyaknya tugas. Tapi ternyata, proses mengerjakan tugas akhir punya cerita dan tantangannya sendiri.
Waktu itu aku mengambil judul yang sebenarnya cukup sensitif dan jarang diambil orang lain. Bahkan saat sidang nanti, di angkatanku yang mengambil tema serupa hanya sekitar tiga orang saja. Awalnya aku merasa bangga karena bisa mengambil topik yang berbeda dan cukup menarik untuk dibahas. Tapi ternyata, di balik itu semua ada banyak proses yang nggak semudah yang aku bayangkan.
Salah satu kendala terbesar yang aku hadapi waktu itu adalah dosen pembimbing yang cukup sulit ditemui. Jadwal bimbingan jadi sangat terbatas dan dalam satu semester mungkin hanya beberapa kali saja benar-benar bisa bimbingan secara langsung. Kadang rasanya bingung harus melanjutkan bagian mana dulu, karena ada banyak revisi dan pertanyaan yang ingin ditanyakan, tapi waktunya tidak selalu memungkinkan.
Selain itu, tantangan lain datang dari tempat magangku dulu. Karena topik yang aku ambil berkaitan dengan data perusahaan, aku membutuhkan beberapa data pendukung untuk melengkapi isi tugas akhir. Tapi ternyata, pihak tempat magang benar-benar tidak ingin memberikan data tersebut. Saat itu aku sempat panik dan merasa bingung harus bagaimana, karena beberapa bagian tugas akhir memang membutuhkan data tersebut agar pembahasannya lebih lengkap.
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya itu juga jadi pelajaran buat aku. Dari awal aku memang kurang benar-benar memastikan apakah data yang nantinya dibutuhkan akan bisa diminta atau tidak. Jadi saat semuanya sudah berjalan cukup jauh, baru terasa kalau ada bagian yang ternyata cukup sulit untuk dipenuhi. Apalagi karena topik yang aku ambil memang cukup sensitif, jadi perusahaan juga pasti punya pertimbangannya sendiri.
Tapi aku nggak langsung berhenti begitu saja. Aku beberapa kali kembali mengunjungi tempat magang untuk mencoba meminta bantuan lagi secara baik-baik. Jujur, waktu itu rasanya cukup deg-degan setiap datang, karena takut tetap ditolak. Tapi alhamdulillah, setelah beberapa kali mencoba dan menjelaskan kebutuhan tugas akhirku, akhirnya mereka membantu memberikan sebagian data yang dibutuhkan, walaupun memang tidak semuanya.
Dan ternyata, bagian yang paling aku khawatirkan justru berjalan lebih baik dari yang aku bayangkan. Saat sidang tugas akhir, alhamdulillah dosen pengujiku tidak terlalu mempermasalahkan kekurangan data tersebut. Mungkin karena mereka juga memahami kalau topik yang aku ambil memang cukup jarang dan sensitif, jadi ada beberapa keterbatasan yang memang tidak bisa dihindari.
Sampai sekarang, pengalaman itu masih sangat aku ingat. Bukan cuma karena sulitnya proses mengerjakan tugas akhir, tapi karena dari situ aku belajar banyak hal. Belajar untuk tetap mencoba walaupun sempat merasa mentok, belajar untuk lebih berani meminta bantuan, dan belajar kalau kadang proses yang paling berat justru jadi pengalaman yang paling berharga.
Aku juga sadar kalau selama proses itu, ada banyak orang di sekelilingku yang membantu dan mendukung, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan mungkin kalau waktu itu aku benar-benar sendirian, semuanya akan terasa jauh lebih berat.
Sekarang kalau mengingat semuanya lagi, rasanya malah jadi bersyukur pernah melewati proses itu. Karena dari sana aku jadi lebih percaya kalau setiap kesulitan pasti ada jalannya, walaupun mungkin tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan dari awal.
Dan semoga ke depannya aku juga bisa terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Karena setelah melewati semua proses itu, rasanya aku jadi semakin yakin kalau belajar dan berkembang memang nggak pernah berhenti.
Leave a Reply