Beberapa waktu terakhir, aku merasa hidup seperti berjalan lebih pelan dari biasanya. Bukan karena tidak ada yang dilakukan, tapi karena ada hal yang membuat semuanya terasa berbeda. Aku kehilangan dua orang terdekat, dan kehilangan itu datang di waktu yang tidak pernah benar-benar bisa dipersiapkan.
Kehilangan pertama terjadi di tahun 2025, tepatnya di bulan November. Waktu itu aku sedang bekerja di Cikarang, menjalani hari seperti biasa. Sampai menjelang jam pulang kerja, aku mendapatkan kabar bahwa nenekku meninggal di rumah sakit. Rasanya seperti waktu berhenti sejenak. Aku hanya diam, mencoba memahami kabar yang baru saja aku terima. Perasaan kaget, sedih, dan tidak percaya bercampur jadi satu. Saat itu aku sadar, bahwa kehilangan bisa datang kapan saja, bahkan di tengah rutinitas yang terasa biasa.
Aku pikir, mungkin itu akan menjadi satu-satunya kehilangan besar yang harus aku hadapi dalam waktu dekat. Tapi ternyata tidak. Di tahun 2026, aku kembali kehilangan. Kali ini pamanku, sosok yang sejak kecil sangat dekat denganku. Banyak kenangan yang langsung terlintas begitu aku mendengar kabar itu. Tangis pun tidak bisa ditahan, karena rasanya benar-benar kehilangan seseorang yang punya tempat penting di hidupku.
Yang membuat semuanya terasa lebih berat, kejadian itu juga terjadi saat aku sedang bekerja. Bedanya, waktu itu aku sedang wfa di rumah. Saat itu aku sedang fokus mengerjakan sesuatu, ketika tiba-tiba suasana di depan rumah menjadi ramai. Orang-orang mulai berkumpul, dan ada ambulans yang berhenti di depan rumah nenekku. Semuanya terasa begitu cepat. Ternyata, pamanku menghembuskan napas terakhirnya sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Nenekku bahkan melihat langsung momen itu. Dari situ, suasana langsung berubah. Tangis, rasa kaget, dan kehilangan menyelimuti seluruh keluarga kami.
Kejadian itu benar-benar membuat kami semua terpukul. Rasanya seperti kehilangan datang bertubi-tubi tanpa jeda. Dari semua yang terjadi, ada satu hal yang terus teringat di pikiranku, bahwa pada akhirnya semua akan kembali kepada-Nya. Kalimat itu mungkin sering kita dengar, tapi benar-benar memahaminya ternyata tidak mudah. Perlu waktu, perlu proses, dan terkadang perlu kehilangan untuk benar-benar mengerti.
Aku jadi lebih sadar bahwa waktu bersama orang-orang terdekat itu sangat berharga. Kehadiran mereka yang dulu terasa biasa, ternyata adalah sesuatu yang tidak tergantikan. Sekarang, aku tidak bisa bilang sudah sepenuhnya kuat. Masih ada rasa sedih yang datang tiba-tiba, masih ada momen di mana aku teringat mereka lalu terdiam cukup lama. Tapi pelan-pelan, aku belajar menerima dan mengikhlaskan.
Mungkin ini bukan tentang melupakan, tapi tentang bagaimana kita tetap melanjutkan hidup dengan membawa kenangan yang mereka tinggalkan. Dan dari semua ini, aku kembali belajar bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Pelan-pelan, aku belajar melepaskan.
Leave a Reply