Aku, Ekspektasi, dan Realita

Dulu aku sering punya banyak bayangan tentang bagaimana hidupku seharusnya berjalan. Di usia tertentu harus sudah begini, harus sudah mencapai itu. Rasanya seperti ada garis waktu yang tanpa sadar aku buat sendiri, lalu aku paksa untuk selalu tepat.

Tapi semakin bertambah usia, aku mulai sadar bahwa realita tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ada hal-hal yang datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Ada juga yang terasa sangat lama dan membuatku bertanya-tanya, “Kenapa belum juga sampai di titik itu?” Di situ aku mulai belajar bahwa ekspektasi sering kali tidak sejalan dengan kenyataan.

Kadang ekspektasi membuatku terlalu keras pada diri sendiri. Saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, rasanya seperti gagal. Padahal mungkin memang bukan waktunya, atau memang jalannya berbeda dari yang aku bayangkan.

Realita mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku untuk lebih fleksibel, lebih sabar, dan lebih menerima bahwa hidup bukan perlombaan. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Setiap orang punya jalannya sendiri.

Sekarang aku masih punya harapan dan target, tentu saja. Tapi aku belajar untuk tidak lagi menjadikannya beban. Jika hari ini belum sesuai ekspektasi, bukan berarti semuanya salah. Bisa jadi itu hanya bagian dari proses yang memang harus dilewati.

Aku dan ekspektasi mungkin tidak akan pernah benar-benar terpisah. Tapi sekarang aku mencoba berdamai dengan realita. Tidak lagi memaksa, tidak lagi membandingkan, hanya berjalan pelan sambil tetap percaya bahwa semua akan sampai pada waktunya.

Dan mungkin, kedewasaan itu bukan tentang berhasil memenuhi semua ekspektasi. Tapi tentang belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *