Kebaikan yang Berbuah di Waktu yang Tidak Disangka
Beberapa hari yang lalu, aku sempat mengobrol dengan orang tuaku. Di tengah obrolan itu, mereka bercerita kalau di tempat kerja mereka sering ada mahasiswa yang datang untuk menjalani PKL atau magang.
Mereka bilang, selama memang bisa dibantu dan sesuai dengan prosedur yang berlaku, mereka akan berusaha mempermudah prosesnya. Bukan berarti memberikan perlakuan khusus, tetapi lebih kepada membantu agar mahasiswa yang sedang belajar bisa mendapatkan kesempatan dan pengalaman yang baik.
Entah kenapa, setelah mendengar cerita itu aku jadi banyak berpikir.
Aku langsung teringat dengan perjalanan magangku sendiri. Waktu masih menjadi mahasiswa, alhamdulillah proses mencari tempat magang berjalan dengan lancar. Begitu juga ketika mengikuti program magang dari Kemnaker. Aku merasa banyak hal yang dipermudah. Bertemu dengan lingkungan yang baik, mendapatkan kesempatan untuk belajar, hingga akhirnya dipercaya untuk terus berkembang sampai sekarang.
Saat mengingat semuanya, aku jadi bertanya dalam hati.
“Apakah ini salah satu bentuk keberkahan dari kebaikan yang selama ini ditanam oleh orang tuaku?”
Aku memang tidak pernah tahu bagaimana Allah membalas setiap kebaikan yang dilakukan seseorang. Namun aku percaya, setiap perbuatan baik tidak pernah benar-benar berhenti pada orang yang melakukannya.
Kadang balasannya datang dengan cara yang tidak kita sangka.
Bisa jadi kembali kepada dirinya sendiri.
Bisa jadi melalui keluarganya.
Atau bahkan melalui anak-anaknya.
Mendengar cerita orang tuaku membuatku semakin percaya bahwa mempermudah urusan orang lain adalah salah satu kebaikan yang luar biasa. Mungkin bagi mereka itu hanya membantu mahasiswa yang sedang belajar. Namun siapa sangka, kebaikan itu justru membuatku merenung bahwa aku juga merasakan banyak kemudahan dalam perjalanan mencari pengalaman di dunia kerja.
Aku jadi teringat sebuah kalimat yang sering kudengar, “Apa yang kita tanam hari ini, mungkin tidak langsung kita petik besok.”
Kadang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Bahkan bisa jadi yang merasakan bukan diri kita sendiri, melainkan orang-orang yang kita sayangi.
Dari cerita sederhana itu, aku belajar bahwa kita tidak pernah tahu seberapa jauh sebuah kebaikan akan berjalan. Hal yang menurut kita kecil, ternyata bisa memberikan dampak yang besar bagi kehidupan orang lain.
Semoga aku juga bisa mengikuti jejak kedua orang tuaku. Kalau suatu hari nanti ada kesempatan untuk membantu orang lain, semoga aku tidak ragu untuk melakukannya. Karena mungkin, kebaikan itu tidak akan kembali kepadaku secara langsung.
Tetapi kalau Allah menghendaki, bisa saja keberkahannya hadir melalui orang-orang yang paling aku sayangi.
Dan mungkin, itulah indahnya sebuah kebaikan. Tidak selalu kembali dengan cara yang sama, tetapi selalu menemukan jalannya untuk kembali pada waktu yang paling tepat.