Hangat yang Tidak Direncanakan
Dulu waktu masih kuliah, aku sering berpikir kalau teman kerja itu ya mungkin hanya sebatas teman kerja. Datang, bekerja, ngobrol seperlunya, lalu pulang. Rasanya berbeda dengan teman sekolah atau teman kuliah yang bisa dekat karena sering bertemu setiap hari, mengerjakan tugas bersama, bercanda, atau bahkan menghabiskan banyak waktu bersama.
Entah kenapa dulu aku sempat memikirkan hal itu cukup sering. Aku pernah berpikir, “Nanti kalau kerja aku engga punya teman gimana ya?” atau “Kalau ternyata rasanya beda sama waktu kuliah gimana?”
Bahkan saat baru lulus, jujur saja ada cukup banyak kekhawatiran yang muncul di kepala. Takut tidak bisa menyesuaikan diri, takut lingkungan baru, takut merasa sendirian, takut tidak punya teman seperti dulu. Padahal sekarang kalau dipikir-pikir lagi, banyak dari kekhawatiran itu ternyata belum tentu terjadi. Bahkan beberapa di antaranya sama sekali tidak terjadi.
Kadang memang sebelum menjalani sesuatu, pikiran kita suka membayangkan banyak hal. Seolah-olah semuanya akan sulit atau terasa menakutkan. Padahal saat dijalani, semuanya berjalan dengan sendirinya.
Kalau dipikir sekarang, mungkin yang terpenting bukan memikirkan apakah nanti akan punya teman atau tidak, tapi bagaimana kita membawa diri. Menurutku attitude yang baik dan kemampuan menyesuaikan diri itu sangat penting. Karena ketika kita bisa menghargai orang lain, nyaman diajak bekerja sama, dan terbuka dengan lingkungan baru, semuanya akan berjalan lebih mudah.
Dan yang tidak pernah aku sangka sebelumnya adalah sekarang aku punya teman-teman kerja yang ternyata menyenangkan.
Ada momen-momen kecil yang menurutku sederhana tapi berharga. Misalnya saat hari Jumat, sekadar ngobrol santai, makan bersama, atau mencoba tempat baru. Hal-hal kecil seperti itu ternyata membuat suasana terasa hangat.
Dulu aku juga pernah merasa cukup lonely. Apalagi setelah lulus kuliah. Sebagian besar teman kuliahku ada di Jakarta, sementara teman-teman SMA juga sudah sibuk dengan aktivitas dan jalan hidup masing-masing. Rasanya seperti semua orang mulai berjalan ke arahnya sendiri-sendiri.
Mungkin saat itu aku takut akan benar-benar sendirian.
Tapi ternyata hidup juga membawa orang-orang baru.
Dan sekarang aku merasa bersyukur karena ketakutan yang dulu sempat ada di pikiranku perlahan hilang dengan sendirinya.
Aku juga engga pernah bosan bilang kalau aku sangat bersyukur bisa bekerja di Excellent. Bukan hanya karena pekerjaannya, tetapi juga karena lingkungannya yang baik. Lingkungan yang membuat seseorang merasa diterima, merasa nyaman, dan merasa tidak sendirian.
Karena ternyata terkadang yang membuat suatu tempat terasa menyenangkan bukan hanya pekerjaannya, tapi juga orang-orang di dalamnya.
Dan mungkin ini salah satu hal yang dulu tidak pernah aku bayangkan saat masih duduk di bangku kuliah.